Selamat Jalan H. Tb. Tryana Sjam’un
Sore itu, 3 Januari 2026, di Puri Salakanagara, Pandeglang, udara terasa begitu sejuk dan tenang. Sisa-sisa hujan masih menempel di di pohon dan rerumputan yang menghiasi halaman luas di rumah peristirahatan itu. Seminggu sebelum ia benar-benar pergi, tak ada gurat perpisahan di wajah Tryana Sjam’un. Dia yang baru saja pulih, justru tampak bugar, menikmati setiap detik percakapan bersama kami, para pengurus Salakanagara Institute. Di sela-sela obrolan yang melintasi berbagai cakrawala, beliau tetap menjadi pribadi yang kami kenal: terbuka, kaya akan humor, dan tak lepas dari kepulan kretek yang ia nikmati dengan santai.
Namun, sore itu menyimpan satu momen yang kini terasa begitu bermakna. Ketika kawan-kawan lain berpamitan untuk pulang, dia menahan saya. Ia meminta saya untuk tidak pulang dulu—sebuah ajakan yang biasanya berlanjut dengan saya menginap di sana untuk menemani beliau berdiskusi hingga larut malam. Namun, karena ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan esok harinya, saya terpaksa harus berpamitan.
Dengan keterbukaan hati yang menjadi ciri khasnya, dia akhirnya mengikhlaskan saya pulang. Tak ada beban, hanya pengertian yang tulus. Sebelum melangkah pergi, saya sempat berkelakar sebagai bentuk rasa syukur melihat kondisinya, “Alhamdulillah Kakak sehat sekarang, karena akhir-akhir ini saya kerap mimpi yang aneh-aneh.” Kami pun berjanji untuk saling mendoakan.

Saya tidak menyadari bahwa sore itu adalah dialog terakhir kami. Dia tidak pamit dengan kepedihan, melainkan dalam kondisi yang paling autentik: sebagai seorang intelektual yang hangat, sahabat yang murah hati, dan guru yang tetap menyalakan api inspirasi hingga senja menyapa. Kini, mimpi-mimpi aneh itu telah menemukan jawabannya. Kepergiannya yang tenang seolah-olah menjadi bab penutup yang sempurna dari buku favoritnya, Dialogue with Death karya Eknath Easwaran—sebuah refleksi bahwa hidup memang singkat, namun bisa menjadi sangat bermakna. Kesadaran filosofis inilah yang membentuk karakter dirinya menjadi pribadi yang sangat murah hati dan memiliki integritas yang tak tergoyahkan. Dia tidak mencari panggung, bahkan kekuasaan sebagai gubernur yang hanya “sejengkal” bisa dengan mudah diraihnya. Dia membangun fondasi agar orang lain bisa berdiri di atasnya, meski dalam perjalanannya tidak semanis yang dia bayangkan.
Tryana wafat pada Ahad petang, 11 Januari 2026. Siang hari kami para pengurus SI sempat membesuknya di rumah sakit, dan beroleh keterangan dari pihak keluarga bahwa kepergiannya hanya tinggal menunggu waktu, dan segalanya harus segera dipersiapkan. Termasuk untuk rencana pemakamannya di Pandeglang. Kami pun pulang den menyempatkan diri mampir di rumahnya di Kemang. Tentu dengan masih berharap sebuah mukjizat.
Perjuangan yang Berakar dari Ketulusan
Kehangatan yang terpancar di Puri Salakanagara sore itu sebenarnya adalah energi yang sama yang beliau gunakan untuk merajut mimpi besar bernama Provinsi Banten. Bagi Tryana, mendirikan sebuah provinsi bukan sekadar memindahkan urusan administrasi dari Bandung ke Serang. Ia adalah sebuah ikhtiar intelektual dan kultural untuk mengembalikan martabat “Tanah Ulama dan Jawara”.
Sebagai Ketua Umum Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten, Tryana adalah sosok “perekat”. Dia memiliki kemampuan langka untuk berdiri di tengah faksi-faksi yang berbeda—merangkul ulama dengan rasa takzim, menyatukan para jawara dengan pendekatan emosional yang tepat, dan memimpin para intelektual dengan wawasan yang luas. Semuanya ia lakukan dengan cara yang sama seperti sore terakhir kami: terbuka, tanpa jarak, dan selalu diselingi humor yang mencairkan kebuntuan politik.
Integritas Tryana teruji ketika banyak orang mulai melihat potensi “kekuasaan” di provinsi baru ini. Dia tetap pada khitahnya sebagai pengabdi. Dia adalah sedikit dari tokoh yang “selesai dengan dirinya sendiri.” Kedermawanannya bukan sekadar soal materi yang ia kucurkan demi kelancaran organisasi, melainkan kedermawanan semangat. Dua memberikan waktu, kesehatan, dan pemikirannya tanpa pernah menuntut imbalan jabatan.
Inilah yang membedakan dia dari sosok pebisnis pada umumnya. Di saat dunia bisnis sering kali hanya bicara tentang profit, Tryana bicara tentang legacy. Referensinya adalah kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat. Luasnya bacaan dia menjadikannya seorang negosiator yang tidak hanya mengandalkan otot politik, tapi juga kedalaman logika. Ia mendirikan Provinsi Banten dengan etika, sebuah nilai yang kini menjadi warisan tak ternilai bagi kita yang ditinggalkan.
Kini, sosok yang baru saja tampak bugar sambil menikmati kreteknya itu telah benar-benar pulang. Dialog terakhir kami di Pandeglang menjadi saksi bahwa ia pergi dalam damai, seolah tugas besarnya telah tuntas dan tongkat estafet telah ia letakkan dengan rapi untuk kita teruskan.

Kepergian Haji Tubagus Tryana Sjam’un adalah kehilangan besar bagi kompas moral Banten. Namun, ia telah membuktikan bahwa hidup yang singkat bisa menjadi sangat panjang dampak dan maknanya. Kini, setiap kali kita melihat tegaknya Provinsi Banten, kita sedang melihat wujud nyata dari integritas dan kasih sayang seorang anak bangsa yang sangat mencintai tanah kelahirannya. Kepergian Tryana Sjam’un, juga bukan sekadar hilangnya satu nama dalam catatan sejarah Provinsi Banten. Bagi kita yang mengenal dan menyerap semangatnya, kepergiannya adalah saat di mana sebuah “buku besar” tentang integritas dan pengabdian akhirnya tertutup, meninggalkan kita dengan bab-bab hikmah yang harus terus dibaca.
Selamat jalan, Ka Tryana. Janji kita untuk saling mendoakan akan terus terjaga. Doa kami akan menyertaimu, sebagaimana jasa-jasamu akan selalu menyertai setiap langkah kemajuan tanah Banten yang kau cita-citakan dengan penuh cinta dan ketulusan.

