Perjalanan Guru Armen, Dai yang Wali Nagari Membangun Nagari

Penyerahan bantuan beras oleh Wali Nagari Balingka Armen, S.Pd.I untuk warga terdampak Covid-19

Bercita-cita untuk mengabdi di kampung halaman melalui amal nyata dan syiar Islam merupakan keinginan yang terpendam di hati  Armen,S Pd.I. Alhamdulillah, cita-cita itu terwujud melalui jabatan yang disandangnya sekarang ini, sebagai wali nagari Balingka ( 2017-2023), sekaligus merangkap  mubaligh. Karena itu selama Ramadan lalu disamping rutin menjalankan tugasnya di pemerintahan desa, ia pun rutin mengisi ceramah Ramadan di masjid.

Sebenarnya, Armen nyaris tinggal di perantauan–Medan atau Jakarta– kalaulah tidak ada panggilan hati  yang mengusiknya untuk kembali ke kampungnya di Balingka, Kec. IV Koto, Kab. Agam, Sumatera Barat.

Setelah tamat SD di Balingka tahun 1985, Armen melanjutkan ke SMP Koto Tuo,  sekitar  5 km ke arah Bukittinggi.  Tamat tahun 1988, Armen sangat ingin mendalami ilmu agama Islam di Sumatera Thawalib, Parabek, Bukittinggi, sebuah thawalib (pesantren) terkenal. Untuk itu ia memasuki thawalib tersebut meski  harus berkorban memulai lagi dari kelas satu.

Namun, di Parabek Armen tidak tuntas menyelesaikan sekolah, hanya sampai kelas 3. Tiba-tiba ada panggilan hatinya untuk belajar ke Bangil, Pesantren Persis, Jawa Timur.  Untuk itu dengan tekad yang sangat kuat ia berangkat ke Jakarta, meski hanya seorang diri. ” Inilah pertama kali saya merantau ke luar dari kampung halaman,” ungkapnya.

Di Jakarta, Armen menetap di rumah familinya Gang Harlan, Tanah Abang. Lalu ia mencari informasi untuk pendaftaran di Pesantren Persis, Bangil. Ternyata, ada perwakilannya di Tanah Abang 1, Jakarta Pusat. Setelah memenuhi beberapa prosedur  akhirnya ia berangkat ke Bangil menggunakan kereta dari stasiun Gambir.

Nyaris Frustrasi

Armen menamatkan pendidikannya di Pesantren Persis, Bangil, tahun l996. Waktu itu ia bercita-cita ingin masuk Universitas Antar Bangsa Malaysia. Namun, karena tidak bisa melengkapi persyaratan ia tidak bisa memenuhi harapannya tersebut. Keadaan ini hampir membuatnya kecewa dan putus  asa.

Di tengah kegalaun tersebut Armen pergi merantau ke Medan. Ia bekerja di perusahaan tailor atau Penjahit Oskar, perusahaan orang kampungnya yang lumayan berkembang. Dari mula sebagai pelayan hingga ia pandai menjahit pakaian dan mendapat upah tiap pakaian yang dikerjakan.

Tetapi pekerjaan menjahit bukanlah cita-cita yang diseriusi Armen. Keinginannya tetap untuk kuliah atau melanjutkan ke  perguruan tinggi. Setelah pandai menjahit dan mendapat penghasilan Armen mendaftar kuliah di IAIN Sumatera Utara. Namun, nasib rupanya membawa Armen untuk selalu sekolah berpindah-pindah. Di Medan, Armen bertemu dengan sejawatnya yang belajar di Pesantren Persis Bangil. Rekan-rekannya aktif melakukan dakwah dan pengajian. Maka, Armen pun ikut bergabung dan aktif pula mengajar dan berdakwah. Ia pun bergabung dengan Ikadi (Ikatan Dai Indonesia).  Bahkan, mereka ini kemudian merintis membangun pesantren yang diberi nama Pesantren Al-Uswah di Kec. Kuala, Binjai. Membangun mulai dari nol di tengah pemukiman yang masih semak-semak dengan awal santri 20 orang. Kini, Pesantren Al- Uswah sudah menjadi pesantren moderen dengan jumlah santri mencapai ratusan.

Sibuk beraktifitas di pesantren Al -Uswah sambil kuliah di IAIN Sumut, Medan, Armen merasa terkendala karena jarak IAIN dan Binjai terlalu jauh. Ia yang terdaftar di Fakultas Syariah IAIN Sumut akhirnya memutuskan pindah ke Binjai dan kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Binjai. Di sini Armen total menyibukkan diri dengan  mengajar dan berdakwah,  bahkan sempat berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Fasalnya, ketika di Binjai ia memutuskan menikah dengan Sri Banun Br Sembiring, guru kontrak lulusan program D 3 PSGD, yang waktu itu selangkah lagi menjadi PNS.

Wali Nagari Balingka bersama istri dan anak-anaknya

Armen  lulus  S1 STAI  Fakultas Tarbiyah tahun 2004, dan sesuai cira-citanya untuk mengabdi di tanah kelahirannya ia memutuskan pulang kampung dengan membawa isteri dan anak-anaknya. Sebenarnya, pulang kampung ini sudah melalui pertimbangan yang masak dan matang dengan segala resikonya. Sebab, pengalaman menunjukkan jika ada perantau yang pulang kampung berkiprah di tanah kelahiran jarang yang tahan, akhirnya balik merantau lagi. ” Saya waktu itu sudah mempersiapkan mental, kalaupun akhirnya menjadi petani dan mengayunkan cangkul akan dilakoni,” kenangnya.

Benar saja, di kampung Armen menjalani kehidupan mulai dari bawah. Ia bekerja tanpa pilih bulu, meskipun ia lulusan perguruan tinggi. Sesuai basicnya sebagai sarjana pendidikan dan da’i ia mengajar di sebuah madrasah di kampungnya,yaitu di MDA (Madrasah Diniyah Awaliah) Baitur Rahmah dan juga guru SD. Bahkan, ia merangkap jadi garin masjid (marbot) di Masjid Kayu Dama Subarang. ” Mulai dari membersihkan masjid, membersihkan kamar mandi, menjadi imam dan lainnya, itulah tugas saya,” kisahnya.

Tetapi, karena Armen sejak di Medan sudah menjadi aktifis baik di partai (PKS) maupun di dakwah (Ikadi), maka ketika pulang ke Balingka ia dengan mudah menjalin komunikasi dengan aktifis di kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam, baik aktifis dakwah maupun politik. Bahkan, ia sempat menjadi Ketua PKS Kec. IV Koto dan pengurus PKS Kab. Agam. ” Jadi, pada waktu  itu saya sudah sering sibuk di luar, disamping mengajar dan marbot mesjid, namun komitmen saya tetap ingin mengabdi di kampung halaman,” tegasnya.

Dua tahun setelah kepulangan dari Medan cukup bagi Armen memahami situasi dan problem di kampung halamannya. Baik persoalan politik, ekonomi, pendidikan maupun sosial. Terutama, yang terkait dengan kebijakan pemerintahan dan kepemimpinan di kenegarian ia nengkritisi demi kemajuan  Balingka. Salah satu yang hangat waktu itu masalah pembebasan lahan untuk pembangunan jalan raya Malalak-Sicincin.

Membangun Nagari dan Tahfidz Quran

Keterlibatan, kepedulian dan concernnya pada kampungnya Balingka rupanya mulai mendapat simpati masyarakat. Maka, tahun 2006  ia mulai mendapat kepercayaan sebagai Wali Jorong Pahambatan. Dan, pada tahun yang sama ia maju pula sebagai calon wali nagari Balingka, namun belum beruntung meraih kemenangan. Tetapi, pada tahun 2009 ia mendapat rekomendasi PKS untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kab. Agam dan meraih suara untuk duduk  di DPRD selama 5 tahun. Dalam masa tersebut ia berusaha memanfaatkan untuk memajukan Nagari Balingka. ” Dalam rangka mengabdi ke nagari, kalau ada peluang saya bawa ke Balingka, di antaranya melalui dana aspirasi, yang jumlahnya sekitar Rp 2 miliar digunakan untuk membangun irigasi, cor jalan dan bea siswa,” jelasnya.

Hanya satu periode Armen di DPRD. Pada tahun 2017 ia kembali maju sebagai wali nagari, dan terpilih untuk menjabat hingga tahun 2023. Kini beberapa program dijalankanya untuk memajukan Balingka. Pada masanya dibangun jalan mulai dari Kantor Wali Nagari   hingga pelosok-pelosok sampai ke pemukiman pertanian paling ujung di Patapayan, jorong Pahambatan. Seluruhnya, jorong ini sudah bisa dilalui kendaraan roda empat, sehingga memudahkan pengangkutan hasil pertanian ke Bukittinggi. Kemudian di jorong  Kotohilalang dan lainnya diperbaiki saluran-saluran air dan irigasi.

Program lain yang cukup penting adalah mendirikan Badan Usaha Milik Nagari (Bumnag). Ada tiga unit usahanya yaitu mendirikan toko bangunan, pengangkutan sampah masyarakat, dan pengadaan air bersih ke setiap rumah-rumah penduduk. ” Bumnag Balingka ini telah meraih nomor dua yang terbaik se Sumatera Barat, sedangkan pengadaan dan pelayanan air bersih dan sampah ini yang pertama kali diadakan, sebelumnya tidak pernah ada,” ujar Armen.

Sekarang ini sedang dijajaki juga pengembangan pariwisata di Balingka. Sebab, ada potensi dan peluang. Di antaranya yang sudah diminati masyarakat adalah objek wisata pemandian Mato Aia Pinsi (Mata Air Pinsi), wisata pemandangan alam Bukit Gambuang dan Pendakian Gunung Singgalang. ” Bahkan, di Kotohilalang terdapat air terjun yang tingginya hampir sama dengan Lembah Anai, dan sudah ada masyarakat yang mengunjungi,” terang Armen.

Wali Nagari Balingka (kiri) mempromosikan strawberry

Namun, yang sudah berjalan sekarang ini atas prakarsa masyarakat adalah wisata strawberry. Awalnya, yang hanya kegiatan pertanian biasa, ternyata memikat masyarakat untuk mengunjungi. Melihat potensi ini pemerintahan nagari menjajagi kemungkinan pengembangannya dengan mencoba bekerjasama dengan Tim Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. ” Kami sudah melaksanakan MOU dalam 5 bidang, termasuk pariwisata, yaitu bidang hukum, kesehatan, teknik, pariwisata dan pertanian. Dekan, pembantu rektor dan dosennya sudah turun ke lapangan meninjau. Programnya pun sudah disusun, dan kemungkinan setelah lebaran bisa dilaksanakan,” ujar Armen. Ditambahkan, program ini sasaran utamanya adalah agro bisnis untuk meningkatkan penghasilan pertanian dan pemasaran.

Ada program lain yang sedang diusahakan saat ini oleh Pemerintahan Nagari, yaitu membangun  lapangan untuk pusat kegiatan masyarakat. Lokasi atau arealnya dekat SD 07. “Kami sudah menyiapkan gambar atau master plannya. Memang ini adalah program kementerian, yang kalau kita bisa masuk akan ada dana yang cukup  besar untuk membiayai,” ujar Armen. Menurut Wali Nagari, direncanakan disini ada sarana olah raga, pusat kegiatan masyarakat, futsal, tempat bermain dan lainnya. ” Diharapkan ini bisa mengalihkan anak-anak dari kecanduan   main hp,”imbuh ayah enak anak ini.

Senapas dengan rencana program di atas, salah satu program di bidang kesenian yang diadakan sebelum Ramadhan lalu adalah pertemuan atau  silaturahmi antar perguruan silat se Sumatera Barat, diadakan di Balingka. Acara yang diramaikan pertunjukan seni pencak silat ini mendapat sambutan meriah masyarakat Balingka.

Program penting lainnya yang diadakan oleh Pemerintahan  Nagari adalah tahfidz Quran. Ini juga bagian dari pelaksanaan program Agam Madani yang merupakan program kabupaten. Ada 80 santri tahfidz Quran yang dididik Nagari yang tempat belajarnya menggunakan sebagian ruang kantor Wali Nagari. Kegiatannya ada yang  seminggu sekali dan ada yang seminggu tiga kali. Kegiatan ini sudah berlangsung satu tahun. ” Kini kami sedang mempersiapkan Rumah Tahfidz Quran dengan memanfaatkan rumah Keluarga Tamin, atas kesediaan keluarga Tamin rumah tersebut akan di renovasi untuk kegiatan belajar santri tahfidz Quran,” jelas Wali Nagari.

Di Jorong lain juga berkembang kegiatan tahfidz, seperti di  Kotohilalang, sedangkan di jorong Subarang ada kegiatan iktikaf. Namun, untuk kegiatan tersebut secara finansial Nagari belum bisa membantu. Untuk honor ustadz,  vang bisa dibantu baru untuk tahfidz yang diadakan Nagari. Untuk Madrasah Diniyah Awaliah (MDA) yang ada di Pahambatan bantuan baru bisa setahun sekali. Demikian juga untuk para gharin (marbot) masjid dan khatib juga masih terbatas bantuan. Hanya, jelang Iedul Fitri baru-baru ini bantuan bisa diberikan. Demikian juga bantuan untuk  siswa Madrasah Aliyah Swasta (MAS), 20 pendaftar pertama diberikan bantuan berupa alat tulis dan pakaian seragam. ” Belum lama ini kami memberikan bantuan Infokus untuk kegiatan belajar-mengajar”, kata Wali Nagari.

Pendistribusian zakat untuk rehab rumah

Jika ditanya apa keinginan yang hendak diwujudkan ke depan di Balingka, bagi Armen, peningkatan  sumber daya manusia merupakan salah satu yang terpenting. Disamping itu peningkatan pendapatan para petani dan manajemen pemasaran. ” Saya berharap ada kerjasama antara petani dengan masyarakat, misalnya,  ada yang mampu membeli hasil pertanian, seperti cabe dengan harga tertentu yang menguntungkan petani. “Jadi, petani tidak mengalami kerugian di saat harga jatuh,” kata Armen.

Leave a Reply

Your email address will not be published.