Seri Perempuan Hebat Nusantara : Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari, Himpun Suku-suku Dayak untuk Lawan Penjajah Belanda

Kisah patriotisme para perempuan pahlawan nusantara sangat mengagumkan. Sayangnya sering terlupakan meski sumbangsihnya sangat besar. Dari srikandi yang terlupakan itu, di antaranya adalah Ratu Zaleha. Siti Zaleha adalah ratu Kerajaan Banjar. Bersama Bulan Jihad, tokoh perempuan Suku Dayak, mereka bahu-membahu melawan penjajah Belanda.

Rakyat Kalimantan mengenal dan mengenang Ratu Zaleha, seorang bangsawan dan putri Kesultanan Banjar, yang turun langsung bersama rakyatnya untuk berjuang melawan penjajah Belanda. Kala itu, pasukan Belanda menyerang benteng dan pertambangan batu bara Oranje Nassau di Pengaron, Banjar, yang menyulut terjadinya Perang Banjar pada 1859. Perang Banjar menjadi salah satu perang terbesar di tanah Borneo yang berlangsung hampir 46 tahun lamanya.

Ratu dan Panglima Tertinggi Kesultanan Banjar

Nama kecilnya adalah Gusti Zaleha, merupakan cucu Pangeran Antasari, pahlawan nasional yang terkenal lewat perjuangannya melawan penjajah di daerah Muara Teweh, Banjar bagian utara dan sekitarnya. Ayahnya adalah Sultan Muhammad Seman, Sultan Kesultanan Banjar.

Gusti Zaleha lahir pada tahun 1880 di Lembah Sungai Barito, Muara Lawung, pada saat peperangan masih bergulir dengan sengitnya. Masa kecilnya pun diisi dengan pengalaman pahit getir berjuang melawan penjajah bersama ayah dan kakeknya.

Sejak kecil sang ayah menempanya menjadi perempuan Banjar yang berjiwa patriot. Semboyan Haram Manyarah, Waja Sampai ka Puting, yang berarti jiwa juang yang tidak kenal menyerah, pantang berputus asa demi mencapai tujuan, selalu ditekankan Sultan Seman pada putrinya.

Selain berjuang bersama ayah dan ibunya, Nyai Salamah, ia juga ditemani suaminya: Gusti Muhammad Arsyad. Mereka bergerilya, keluar masuk hutan sepanjang utara dan selatan wilayah Barito untuk menghindari gempuran tentara Belanda.

Pada suatu pertempuran yang sengit, Sultan Muhammad Seman gugur. Gusti Zaleha diwariskan cincin kerajaan, yang berarti menggantikan posisi ayahnya sebagai sultan dan pemimpin perang tertinggi. Namanya pun berganti menjadi Ratu Zaleha.

Jalin Persahabatan dengan Panglima Suku Dayak

Selain kehilangan sosok sultan yang sangat dihormati, Ratu Zaleha juga harus kehilangan Gusti Muhammad Arsyad. Sang suami akhirnya menyerah setelah berhari-hari dikepung Belanda  yang menyebabkannya tidak dapat melarikan diri. Setelah itu benteng Manawing, salah satu benteng pertahanan kekuatan Kesultanan Banjar di tepi Sungai Manawing, jatuh ke tangan Belanda.

Gusti Muhammad Arsyad dibuang ke Buitenzorg (sekarang Kota Bogor) pada tanggal 1 Agustus 1904. Sementara Ratu Zaleha berhasil bersembunyi ke Lahei selanjutnya ke daerah Mia di tepi Sungai Teweh.

Di tempat persembunyian ia berpikir untuk menghimpun kekuatan suku-suku Dayak di pedalaman Kalimantan dan mengajaknya berjuang bersama. Beruntung, Ratu Zaleha mendapatkan respons positif dari Bulan Jihad, pemuka perempuan asal Dayak Kenyah, yang juga mengepalai suku Dayak Dusun, Ngaju, Kayan, Siang, dan Bakumpai.

Bulan Jihad adalah Panglima Perang Tertinggi Suku Dayak yang terkenal dengan  sebutan Panglima Burung. Keberadaannya sering dianggap mitos. Namun K.H. Juchran Erfan Ali, pimpinan Pesantren Ushuludin Martapura mengatakan, “Keberadaannya sungguh nyata, Panglima Burung adalah seorang perempuan berparas cantik namun berwatak bengis. Ia sudah ada jauh sebelum Indonesia terbentuk.” ujarnya.

Gubernur Pertama Kalimantan Tengah Tjilik Riwut, pun membenarkan keberadaan Bulan Jihad. “Nama Bulan Jihad sangat terkenal di seantero Barito Hulu dan Barito Selatan,” terangnya. “Ia adalah pendekar sakti mandraguna, memiliki ilmu kebal tahan senjata, bisa menghilang dan melibas lawannya hanya dengan sapuan selendang. Dia selalu berjuang berdampingan dengan Gusti Zaleha, pejuang puteri Banjar.”

Bulan Jihad membantu Ratu Zaleha bersama 87 orang pasukan khususnya. Ada yang menyebutnya Ilum atau Itak. Nama Bulan Jihad disandang pada panglima Burung karena keputusannya masuk Islam berkat dampingan Ratu Zaleha.

Ratu Zaleha Menyerah, Dibuang ke Bogor

Bertahun-tahun memimpin pertempuran membuat kesehatan Ratu Zaleha menurun, demikian pula kekuatan fisik serta pasukannya yang tak lagi seimbang dengan kekuatan Belanda yang bersenjata lengkap. Mempertimbangkan kondisi tersebut, sang ratu berkonsultasi dengan sahabatnya untuk menyerah.

Bulan Jihad awalnya menentang, namun akhirnya sadar tidak bisa memaksa Ratu Zaleha dengan kondisi kesehatannya untuk terus berjuang. Dengan berat hati, pada Juni 1905 mereka berpisah. Ratu Zaleha keluar hutan bersama ibunya, Nyai Salamah. Mereka menuju Muara Teweh untuk dibawa sekutu ke Banjarmasin. Peristiwa menyerahnya Ratu Zaleha menjadi akhir dari Perang Banjar. Namun Bulan Jihad terus melanjutkan perjuangannya dari hutan ke hutan sampai 49 tahun kemudian.

Pada awal tahun 1906, pemerintah Belanda menetapkan hukuman buang. Ratu Zaleha meminta dibuang ke Buitenzorg agar dapat bersatu dengan suaminya.

Sebagai tawanan, Gusti Irsyad hanya mendapat tunjangan 300 gulden per bulan terhitung 1 Mei 1906, sementara istrinya, Ratu Zaleha mendapat 125 gulden sebagai tambahan untuk menghidupi 7 orang anggota keluarga lainnya.

Tunjangan ini berdasarkan surat Sekretaris Goebernemen 25 Juli 1906 no. 1198 yang ditujukan kepada Ekslensi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, dan Asisten Residen Bogor.

Tahun-tahun sepeninggalnya, Belanda semakin merajalela menduduki wilayah kerajaan dan menjarah hasil bumi. Hal itu membuatnya tertekan, marah, tak berdaya, hingga makin memakan kesehatan psikis dan fisiknya.

Setelah 33 tahun hidup dalam pengasingan, pada 1937 Ratu Zaleha diperbolehkan pulang ke kampung halamannya. Ia pun melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana wilayahnya di bawah penjajahan Belanda, dan rakyatnya ditekan, sebagian ditawan. Sebagai seorang ratu, pemimpin Banjar, ia merasa bersalah tak memiliki kekuatan untuk membantu rakyatnya.

Pada September 1953 Ratu Zaleha wafat akibat kondisi kesehatannya yang terus menurun. Ia dimakamkan di komplek makam raja-raja di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Persahabatan Abadi Suku Banjar dan Suku Dayak

Pada tahun 1954, Bulan Jihad dikabarkan turun gunung setelah 49 tahun mengasingkan diri. Kesedihannya bertambah setelah empat bulan kemudian mengetahui bahwa Ratu Zaleha telah meninggal dunia. Mitosnya, Bulan Jihad kembali ke hutan rimba dan tidak diketahui lagi kabar selanjutnya.

Konon ketika rusuh sampit terjadi, sebagai panglima tertinggi Dayak, sang Panglima Burung itu diyakini masih ikut bertempur bersama dengan beberapa panglima lain, seperti Panglima Api, Panglima Hujan Panas, dan Panglima Angin.

Kisah patriotisme Ratu Zaleha dengan Bulan Jihad terus menginspirasi sampai sekarang. Bahkan nama Ratu Zaleha diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah di Kota Martapura, Kabupaten Banjar.

Ketokohan Pangeran Antasari, Gusti Muhammad Seman, Ratu Zaleha dan Bulan Jihad juga menjadi simbol persatuan suku-suku di Kalimantan, baik yang beragama Hindu maupun Kaharingan. KH. Juchran Erfan Ali mengatakan, “Saat itu juga ada kesepakatan bahwa suku Dayak dan suku Banjar tidak akan pernah berperang sampai kapan pun.” (Dewi Yamina, dari berbagai sumber)

2 thoughts on “Seri Perempuan Hebat Nusantara : Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari, Himpun Suku-suku Dayak untuk Lawan Penjajah Belanda

  1. Read reviews, compare customer ratings, see screenshots, and learn more
    about Madencilik Türkiye Dergisi. Download Madencilik Türkiye Dergisi and enjoy it on your iPhone, iPad, and iPod
    touch.

Leave a Reply

Your email address will not be published.