Hari Santri: Anak Pondok dalam Putaran Roda Zaman

Lima tahun lalu Presiden Joko Widodo menetapkan taggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Dan sejak itu, setiap 22 Oktober diselenggarakan berbagai kegiatan terutama di lingkungan pondok pesantren utuk menyambut HSN. Tahun ini, seperti perayaan-perayaan lainnya, HSN dirayakan lewat dunia maya. Pandemi Covid-19 adalah sebab utamanya.

Penetapan 22 Oktober sebagai HSN merujuk pada sebuah peristiwa bersejarah, yaitu seuan jihad dari KH Hasyim Asy’ari epada kaum muslimin untuk berjihad melawan tentara Sekutu yang diboncengi  Belanda yang ingin berkuasa kembali di Indonesia. Dengan demikian, penetaan HSN adalah untuk mengingat dan meneladani semangat jihad para santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Nah, semangat juang pada masa revolusi itulah yang harus diwarisi santri zaman sekarang. Bukan untuk mepertahankan kemerdeaan dari kaum kolonial yang ingin berkuasa kembali di negeri kita, tetapi dalam rangka mengisi dan mencapai cita-cita kemerdekaan.

Jika kita berbicara tentang santri, tentu tidak terlepas dari pembicaraan tentang pondok pesantren. Seperti dikemukakan Zamaksyari Dhofier dalam bukunya Tradisi Pesantren, santri merupakan satu dari lima elemen  di dalam pesantren. Empat lainya adalah kyai,   pondok, masjid, dan pengajaran kitab klasik.  Kata dia, lembaga pengajian yang telah berkembang memenuhi elemen tersebut akan berubah statusnya menjadi pesantren. Menurut Dhofier, pengkategorisasian pesantren di Jawa didasarkan pada jumlah santri, dan cakupan luas wilayah pengaruhnya. Sebuah pesantren dapat digolongkan pesantren besar jika memiliki jumlah santri di atas 2.000 orang, yang berasal dari dari berbagai kabupaten, provinsi, bahkan dari luar negeri. Pesantren yang memiliki santri 1.000 sampai 2.000 orang dapat digolongkan sebagai pesantren menengah. Para santri biasanya datang dari beberapa kabupaten. Sedangkan pesaNtren dengan jumlah santri di bawah 1.000 masuk dalam kategori pesantren kecil dan pengaruhnya terbatas pada tingat kabupaten.

Istilah santri memang hanya terdapat di pesantren sebagai pengejawantahan adanya peserta didik yang haus akan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seorang kyai yang memimpin sebuah pesantren. Oleh karena itu santri pada dasarnya berkaitan erat dengan keberadaan kyai dan pesantren. Menurut Nurcholish Madjid, istilah santri dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, kata santri berasal dari kata ‘sastri’ bahasa Sankskerta yang artinya melek huruf. Asumsi ini didasarkan bahwa kaum santri yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertuliskan dan berbahasa Arab menyebabkan para santri harus berusaha belajar bahasa Arab. Kedua, kata santri berasal dari bahasa Jawa dari kata ‘cantrik’ yang berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru ini pergi menetap. (Nurcholish Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam, 1997)

Dalam tradisi pesantren, santri sering kali dibedakan menjadi dua. Yakni  santri mukim dan santri kalong. Santri mukim adalah santri yang berasal dari tempat jauh di mana ia menetap dan tinggal serta secara aktif menuntut ilmu dari seorang kyai. Dapat juga secara langsung sebagai pengurus pesantren yang ikut bertanggung jawab atas keberadaaan santri lainnya.  Sedangkan santri kalong adalah mereka  yang berasal dari desa sekitar pondok pesantren, yang biasanya tidak menetap di dalam pondok pesantren, tetapi setelah belajar langsung kembali ke rumah masing-masing. Biasanya perbedaan antara pesantren kecil dan pesantrenbesar dapat dilihat dari komposisi santri kalong, semakin besar sebuah pesantren akan semakin besar jumlah santri mukimnya.Dengan kata lain pesantren kecil akan lebih banyak memiliki santri kalong dibandingkan santri mukim. Sebagian pesantren, khususnya pesantren modern, sekarang hanya menerima santri mukim, dimana orang-orang yang menuntut ilmu di pesantren-pesanren modern ini wajib tinggal di pondok atau asrama.

Dari Kitab Kuning Sampai Teknologi Informasi

Disebutkan bahwa salah satu unsur penting lainnya dari pondok pesantren adalah pengajaran kitab klasik alias kitab kuning. Disebut demikian  karena pada umumnya kitab-kitab tersebut dicetak di atas kertas koran yang berwarna kuning.  Kitab-kitab kuning ini, yang juga disebut kitab gundul lantaran tidak menggunakan harakat atau tanda baca,  sebagian besar ditulis oleh ulama-ulama zaman pertengahan dan seluruhnya berasal dari Timur Tengah, kecuali karya-karya Syekh Nawawi al-Bantani yang ditulis pada abad ke-19. Kitab-kitab klasik yang dipelajari di pondok pesantren ini dapat dikelompokkan ke dalam delapan bidang, yaitu: (1) Nahwu dan ṣharaf (tata bahasa Arab), (2)  Fiqh, (3) Uṣhūl al-Fiqh, (4) Hadīṡt, (5) Tafsīr, (6) Tauḥīd, (7) Taṣawwuf dan Akhlak, dan (8) cabang-cabang lain seperti tarikh (sejarah Islam) dan Balāghah (sastra Arab).

Sistem pengajaran melalui kitab-kitab kuning telah menjadi karakteristik yang merupakan cirI khas dari proses belajar mengajar di pesantren.  Kitab-kitab  tersebut biasanya dikategorikan ke dalam tiga tingkatan, yaitu: kitab-kitab dasar, kitab-kitab menengah dan kitab-kitab besar. Proses mempelajari kitab-kitab klasik tersebut biasanya menggunakan sistem weton dan sorogan atau lebih kenal dengan sorogan dan bandongan. Weton adalah pengajian yang inisiatifnya berasal dari kyai sendiri, baik dalam menentukan tempat, waktu maupun fokus bahasannya (kitabnya). Sedangkan sorogan merupakan pengajian yang diajukan oleh seseorang ataupun kelompok santri kepada kyainya untuk diajarkan kitab  tertentu. Pengajian sistem sorogan ini biasanya ditujukan kepada para santri yang prestasi belajarnya cukup baik dan yang berminat akan suatu bahasan khusus sebagai bekal mempersiapakan diri sebagai penerus kyainya.

Pola pendidikan dalam pesantren (pesantren tradisional) dilakukan secara holistik dalam arti bahwa proses belajar mengajar itu merupakan keterpaduan yang utuh dan totalitas alam kehidupan sehari-hari sehingga persoalan yang berhubungan kapan mulai belajar, target apa yang ingin dicapai dan kapan harus selesai tidak pernah dibicarakan. Implikasinya sulit mencari dan merumuskan tujuan pendidikan pesantren secara baku yang biasa dijadikan standar umum.

Dalam perjalanannya, proses belajar di lingkungan pesantren tidak semata-mataa terfokus pada kajian kitab-kitab klasik, tetapi juga ditambahkan dengan pelajaran umum dan berbagai keterampilan. Salah satunya adalah penguasaan teknologi informasi.  Bahkan salah satu kegiatan pembelajaran  yang boleh dikatakan baru di pondok pesantren adalah pengembangan masyarakat, terutama jika dilihat dari perspektif bahwa misi utama pesantren serta porsi kegiatannya secara umum adalah dalam bidang pendidikan.

Dunia memang telah berubah cepat melebihi yang dibayangkan. Dalam situasi demikian, para santri pun dituntt untuk memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan dunia jika tidak ingin digilas roda zaman. Tentu dengan tetap mempertahankan nilai-niai yang  sudah berurat-berakar di pesantren. Seperti keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, persudaraan, dan kebebasan.{}   

Leave a Reply

Your email address will not be published.